Elise - A Responsive Blogger Theme, Lets Take your blog to the next level using this Awesome Theme

This is an example of a Optin Form, you could edit this to put information about yourself or your site so readers know where you are coming from. Find out more...


Following are the some of the Advantages of Opt-in Form :-

  • Easy to Setup and use.
  • It Can Generate more email subscribers.
  • It’s beautiful on every screen size (try resizing your browser!)

Selasa, 31 Maret 2015

// //

Harga Minyak Tanah Melambung PKL Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik Istirahat Berjualan

NUNUKAN - Penghapusan subsidi minyak tanah untuk Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, sejak awal Maret 2015 membuat harga minyak tanah melambung.

Jika biasanya warga menikmati minyak tanah bersubsidi seharga Rp 2.500 per liter, kali ini harga melambung hingga mencapai Rp 20 ribu per liter.

Warga kaget kedatangan minyak tanah nonsubsidi, Jumat (27/3/2015) lalu. Karena sudah kebutuhan, warga Pulau Nunukan terpaksa membeli minyak tanah meski sangat terbatas.

Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kabupaten Nunukan, Kastari mengatakan, pencabutan subsidi minyak tanah ini jelas sangat memberatkan masyarakat kecil.

Sejumlah pedagang kaki lima terpaksa istirahat berjualan karena tak mampu menutupi biaya operasional. Kastari mengatakan, seharusnya pemerintah punya solusi untuk mengakali persoalan ini.

''Faktanya masyarakat masih banyak masyarakat di bawah garis kemiskinan. Saya harap pemerintah punya kebijakanlah untuk ini," ujar Kastari.

Pedagang kaki lima di Kabupaten Nunukan mencapai 450 orang. Dia mengatakan, hampir setengah dari pedagang tidak berjualan karena mahalnya bahan bakar ini.

PT Pertamina, Rabu (4/3/2015) terakhir kali mendistribusikan minyak tanah bersubsidi ke Pulau Nunukan. Setelah itu, distribusi untuk Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik dihentikan.

Kepala Bidang Minyak dan Gas Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Nunukan, Elirath mengatakan, penghentian distribusi minyak tanah bersubsidi merupakan konsekuensi pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas elpiji bersubsidi tabung tiga kilogram.

Berbeda dengan warga di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik, minyak tanah bersubsidi masih bisa dinikmati warga Kabupaten Nunukan di wilayah daratan Kalimantan.

"Di sana masih jalan terus. Setiap bulan mereka mendapatkan jatah 59 kiloliter. Itu jalan terus, sampai sekarang belum ada informasi sampai kapan mereka masih tetap menikmati minyak tanah bersubsidi," ujarnya.

Dijelaskannya, penghentian distribusi minyak tanah bersubsidi di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik dilakukan secara bertahap dengan mengurangi kuota pengiriman sejak awal tahun ini.

Dari kuota masing-masing 170 kiloliter setiap bulannya di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik, pengiriman terakhir hanya menyisakan kuota 85 kiloliter.

Sumber : Tribunenews
Read More

Senin, 23 Maret 2015

// //

Warga Sebatik Temukan Serpihan Pesawat Sisa Perang

Warga Sebatik Temukan Serpihan Pesawat Sisa Perang
NUNUKAN - Enam orang warga di Pulau Sebatik, menemukan serpihan pesawat yang diduga digunakan untuk perang saat konfrontasi Republik Indonesia-Malaysia.

Jamaluddin, Yusuf, Hasruddin, Boby, Umar dan Syahmi memang sengaja mencari bangkai pesawat dimaksud, karena penasaran dengan cerita-cerita warga setempat.
Jamil menceritakan, mereka harus melewati bukti yang curam dan terjal, dengan menelusuri hutan sejauh dua kilometer dari Kantor Camat Sebatik Tengah. Dua jam melakukan perjalanan, mereka tak juga menemukan hasil.

Namun rasa penasaran yang tak hilang membuat mereka melanjutkan perjalanan dan menelusuri aliran sungai di kawasan itu.
Pencarian itupun tak mengecewakan, dibekas kebun yang sudah tak terurus di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah mereka akhirnya menemukan serpihan pesawat yang dicari.

“Ini pesawat perang produksi 1937 – 1942 Inggris. Itu terlihat dari tangki bahan bakarnya yang bercap AROMATIC 10 PSI,” kata Jamaluddin, melalui surat elektronik kepada Tribun, Minggu (22/3/2015).

Mereka menduga serpihan itu merupakan bangkai pesawat tempur pada perang dunia ke II. “Tetapi yang agak mendekati yaitu MIG 21 saat konfrontasi Indonesia dengan Malaysia yang juga bangkainya tidak ditemukan sampai saat ini,” ujarnya.

Awalnya, kata Jamil, sejumlah warga menertawai ketika mereka menceritakan penemuan itu. Namun setelah menunjukkan foto-foto penemuan pesawat, warga malah kaget dan heran.

Saat ini serpihan bangkai pesawat dimaksud dibawa ke SMP Negeri 1 Sebatik Tengah, tempat Jamaluddin mengajar.

“Ini untuk jadi pajangan sejarah. Kami juga akan buatkan sinopsis untuk pembelajaran siswa di sekolah,” ujarnya.

Dia yakin, masih ada serpihan yang lebih besar. Karena itu, dalam waktu dekat mereka kembali berencana melakukan pencarian di sekitar lokasi penemuan pertama.
Jamaluddin mengatakan, pencarian yang mereka lakukan ini tidak lepas dari rasa penasaran mengenai perang konfrontasi Republik Indonesia dan Malaysia pada awal 1960-an silam.

Kebetulan, Pulau Sebatik yang terbagi menjadi milik Indonesia dan Malaysia merupakan salah satu medan pertempuran saat itu.

“Sejak sekolah, saat bisa membaca dan paham maksud kalimat, saya penasaran dengan gambar – gambar dan bacaan yang ada gambar tank dan pesawatnya,” ujarnya.

Saat duduk dibangku SMA, Jamaluddin telah mendengar ada serpihan pesawat di Desa Maspul.

“Namun itu hanya tinggal cerita karena saat ke Maspul tidak terbukti ada serpihan pesawatnya. Di situlah saya makin penasaran dan terus mencari kabar – kabar baru. Siapa tahu benar adanya,” ujarnya.

Jamaluddin kemudian bercerita panjang lebar dengan Syahmi, penjaga SMP Negeri 1 Sebatik Tengah. Syahmi menceritakan, saat masih kanak-kanak dia pernah melihat serpihan dimaksud. Bentuknya seperti drum dengan besi yang sangat keras. Informasi itulah yang ditindaklanjutinya dengan melakukan pencarian.

Sumber : Tribunenews
Read More

Sabtu, 07 Maret 2015

// //

Ditinggal Mati Istri, Petani Tua di Sebatik Rudapaksa Anak Kandung

Ditinggal Mati Istri, Petani Tua di Sebatik Rudapaksa Anak Kandung
NUNUKAN- Polisi mengamankan Laonding (59), warga Desa Maspul, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan lantaran dilaporkan anak kandungnya sendiri ke Polisi.

Laonding dilaporkan anak pertamanya, karena sudah tidak tahan melihat adiknya yang berusia 16 tahun dirudapaksa sang ayah.

Kapolres Nunukan, AKBP Christian Tory mengatakan, dari laporan kakak korban dan pengakuan pelaku, perbuatan bejat itu sudah terjadi sejak Juli 2014. Terakhir, pelaku kembali melampiaskan nafsunya pada 3 Maret lalu.

"Itu sudah berkali-kali dilakukan. Menurut pengakuan pelaku sudah tidak terhitung," ujarnya, Jumat (6/3/2015).

Penangkapan pelaku itu sendiri berawal dari laporan kakak kandung korban ke Mapolsek Sebatik Barat.

Mendapatkan laporan pencabulan terhadap anak dibawah umur itu, polisi lalu bergerak menangkap pelaku.

Dari pemeriksaan terhadapnya, pelaku yang bekerja sebagai petani ini mengaku melakukan persetubuhan dengan anak kandungnya saat mereka sedang berdua di rumah.

"Jadi dari kebun ketika pulang ke rumah, melihat anaknya sendiri di rumah dia melakukan itu. Anaknya ini masih sekolah," ujarnya.

Pelaku tinggal serumah dengan dua anaknya. Sang istri diketahui sudah meninggal dunia.

Meskipun merasa terpaksa melayani nafsu bejat sang ayah, namun korban tidak berani melaporkan pemerkosaan itu kepada polisi.

"Saya menanyakan kepada yang bersangkutan ada paksaan. Kenapa saya katakan paksaan? Karena korban melakukan itu dalam keadaan terpaksa. Tetapi dia menceritakan pada kakaknya," ujarnya.

Mendengar keluhan sang adik, pelapor lalu berusaha mengumpulkan bukti-bukti perbuatan sang ayah.

Pada 3 Maret lalu, kakak korban yang kebetulan berada di rumah mengambil foto-foto hubungan suami istri sang ayah dengan adiknya itu.

"Sempat difoto kakaknya dengan handphone sebagai barang bukti," ujarnya.

Sumber : Tribunnews
Read More

Rabu, 04 Maret 2015

// //

Isu Pembentukan Daerah Otonomi Baru Sebatik Kembali Ramai Jelang Pilkada

Isu Pembentukan Daerah Otonomi Baru Sebatik Kembali Ramai Jelang Pilkada
NUNUKAN - Koordinator Peduli Kota (PETA) Sebatik, Enal berharap pembentukan daerah otonom baru (DOB) Kota Sebatik tidak menjadi isu yang dieksploitasi untuk kepentingan Pemilihan Kepala Daerah 2015.

Dia mengatakan, selama ini isu DOB Sebatik selalu menjadi komoditas kampanye partai politik termasuk calon kepala daerah. Isu ini tentunya diharapkan bisa menjadi perhatian dan menarik simpati masyarakat setempat.

Dia mencontohkan, pada Pilkada 2011 lalu, ada pasangan calon yang menjanjikan akan memekarkan Pulau Sebatik dari Kabupaten Nunukan. Kenyataannya, hingga menjelang Pilkada 2015 ini, calon yang terpilih saat itu belum juga merealisasikan janjinya untuk mewujudkan pembentukan Kota Sebatik.

"PETA menilai bahwa pemekaran selalu jadi instrumen jualan, instrumen transaksi, bisa dalam arti politik maupun uang, sesuai beberapa agenda politik yang telah dilalui mulai tahun 2011," ujarnya, Selasa (3/3/2015) melalui surat elektronik.

Dia mengatakan, selama ini isu pembentukan DOB Sebatik ternyata tidak ditindaklanjuti dengan serius oleh politisi yang terpilih. Faktanya, DOB Pulau Sebatik yang mulai diwacanakan 2005 lalu, hingga 2015 belum juga terwujud.

"Isu pemekaran yang digembar-gemborkan sejumlah kandidat cenderung membohongi publik. Hal itu karena pemekaran daerah yang seharusnya bisa menjadi solusi peningkatan kesejahteraan masyarakat ternyata tidak seluruhnya berhasil dengan baik," ujarnya.

Menurutnya, menjual isu desentralisasi di antaranya dengan menjanjikan pembentukan DOB Sebatik, justru menunjukkan partai politik maupun para politisi tersebut miskin gagasan tentang perubahan arah kebijakan desentralisasi.

Tak hanya partai politik dan politisi di daerah, isu pemekaran juga kerap menjadi bahan jualan anggota DPR RI kepada para konstituennya.

Setiap anggota DPR RI berkunjung ke Pulau Sebatik, selalu membicarakan isu dan memberikan janji pembentukan DOB Sebatik.

"Sudah berapa anggota DPR-RI, menteri yang berkunjung ke Sebatik. Oleh-oleh yang dibawa kembali pasti segera mekarkan Sebatik. Tapi disayangkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi saat ini," katanya.

Belajar dari pengalaman ini, Enal berharap pada Pilkada 2015 ini tidak ada lagi kontestan yang menjanjikan pembentukan DOB Sebatik sebagai bahan kampanye.

"Jadi tidak ada lagi dalam kampanye ada topik atau janji pemekaran. Selama ini pemekaran dijadikan komoditas para politikus dalam kampanye. Sehingga tidak mengherankan jika menjelang pemilu banyak lagi yang membicarakan pemekaran Sebatik menuju kota," ujarnya.

Sumber : Tribunenews
Read More

Kamis, 26 Februari 2015

// //

Ratusan TKI "Mengungsi" ke Sebatik Ternyata Gara-gara Ini

SEBATIK – Bagi warga Indonesia yang ingin masuk ke Malaysia kini lebih berhati-hati utamanya yang tak berdokumen lengkap. Musababnya, pemerintah negeri jiran tengah ‘galak-galak’nya memberlakukan peraturan ketat masuk ke negaranya dengan menggelar razia termasuk di wilayah Sebatik-Malaysia. Nah, WNI bermasalah –mayoritas TKI- yang terdepak aparat Malaysia, menjadikan Sebatik-Indonesia sebagai tujuan pengungsian.

Pemerintahan setempat yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Sebatik- Malaysia mengakui adanya gelombang para TKI yang mengungsi ke wilayah Sebatik-Indonesia. Langkah itu dilakukan agar terbebas dari razia atau ditangkap pihak pemerintah Malaysia serta harus menunggu berbulan-bulan untuk dideportasi.

“Menurut masyarakat setempat memang ada terjadi seperti itu (mengungsi ke wilayah Sebatik-Indonesia, Red). Banyak dari mereka menghindari pengawasan ketat yang dilakukan pihak Malaysia belakangan ini,” ujar Camat Sebatik Tengah, Harman dilansir Radar Nunukan (Grup JPNN.com), Rabu (24/2).

Dia menjelaskan, banyak TKI yang bekerja di wilayah Sebatik, Malaysia yang jumlahnya dapat ratusan orang. Para TKI yang bekerja ini, umumnya bekerja di sebuah company (perusahaan) yang bergerak dalam pengolahan kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO).

Namun sangat disayangkan, lanjut Harman, sebagian besar TKI yang bekerja di perusahaan Malaysia ini tidak memiliki dokumen keimigrasian. Sehingga, dapat digolongkan tenaga kerja ilegal, jika ada pemeriksaan pemerintah Malaysia. Maka, mereka akan ‘kucing-kucingan’ dengan para petugas tersebut.

Di sisi lain, kebiasaan buruk memasuki negara tetangga tanpa memiliki dokumen resmi ini menjadi turun-menurun dilakukan. Masyarakat menganggap tidak menjadi masalah melintas negeri jiran itu tanpa dokumen dan masyarakat, perusahaan serta petugas Malaysia tidak pernah mempermasalahkan.

“Tapi, tidak akan berlangsung seperti itu terus. Ada perubahan yang dilakukan pemerintah Malaysia, seperti yang terjadi sekarang ini. Mereka ketakutan dan lari ke wilayah Indonesia juga,” terang Harman.

“Menurut penuturan warga, ada yang sampai menginap beberapa malam di Sebatik Indonesia dan kembali ke Sebatik Malaysia jika dianggap aman serta tidak ada razia lagi dilakukan,” sambungnya.

Permasalahan di daerah perbatasan tidak hanya berkutat pada TKI ilegal atau tidak memiliki dokumen. Banyak pula, warga Sebatik sendiri yang siang hari di Malaysia, malam di Indonesia sebagai aktivitas hariannya dalam mencari nafkah di perusahaan Malaysia.

Bukan tidak ingin mematuhi peraturan negara, WNI ini merasa sangat dipersulit jika harus menggunakan dokumen keimigrasian. Hanya butuh 5 menit dari perkampungan warga di Sebatik Indonesia menuju perkampungan atau perusahaan tempatnya bekerja di Sebatik, Malaysia.

Dengan waktu seperti itu, jika menggunakan dokumen yang lengkap harus membawa mereka ke Nunukan untuk mendapat stempel dan pergi ke Tawau, Malaysia untuk mendapatkan stempel izin masuk di negeri jiran itu. Kemudian, harus kembali ke Sebatik-Malaysia untuk bekerja.

“Begitu repotnya hal ini jika dilakukan, inilah penyebab tidak adanya masyarakat atau TKI tidak memiliki dokumen resmi. Lain cerita, jika di Sebatik ini ada tempat imigrasi untuk menstempel jika bepergian ke Malaysia,” jelas camat pertama di Sebatik Tengah kepada awak media ini.

Tidak adanya kelengkapan ini pula, dimanfaatkan para pengusaha Malaysia untuk menjadikan TKI sebagai karyawan di perusahaannya. Alasannya cukup sederhana, tanpa dokumen resmi para TKI ini tidak memiliki perlindungan atau payung hukum yang jelas dan standar upah yang ditetapkan tergantung dari perusahaan tanpa ada perlawanan dari para pahlawan devisa negara ini.

“Makanya para pengusaha ini senang dengan pekerja Indonesia, tidak suka menuntut dan loyal terhadap perusahaan dalam bekerja,” pungkas Harman. (*/eza/asm/jpnn)

Sumber : JPNN
Read More

Senin, 23 Februari 2015

// //

Warga Sebatik Tengah Antusias Cabut Gigi Gratis

Warga Sebatik Tengah Antusias Cabut Gigi Gratis
NUNUKAN - Ratusan pelajar dan masyarakat di Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, antusias mengikuti baksi sosial berupa penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut.

Bakti sosial tersebut digelar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kabupaten Nunukan, selama Sabtu dan Minggu di SMP-SMA Terpadu 1 Kecamatan Sebatik Tengah, Kalimantan Utara.

Di hari pertama tak kurang 424 siswa mengikuti penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut. Sementara di hari kedua, kegiatan pengobatan dan pencabutan gigi diikuti 98 orang dari masyarakat setempat.

Belasan dokter gigi se-Kabupaten Nunukan memberikan pelayanan pada aksi sosial kali ini di pulau yang berbatasan darat secara langsung dengan Malaysia.

Ketua PDGI Kabupaten Nunukan, drg Andi Askandar mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Kecamatan Sebatik Tengah.

“Kegiatan ini kita laksanakan dalam rangka program kerja rutin PDGI dan sebagai wadah silaturahmi. Tujuannya sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat juga bisa menjadi wadah silaturahmi dokter gigi se-Kabupaten Nunukan,” ujar Andi.

Kegiatan bakti sosial seperti ini tentu berkaitan erat dengan program kesehatan di Kabupaten Nunukan. Ke depan diharapkan program serupa bisa melibatkan lebih banyak pihak termasuk perusahaan melalui program corporate social responsibility (CSR).

“Mudah-mudahan PDGI dan perusahaan dan semua pihak bisa berkolaborasi dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan sosial seperti ini,” terang Andi.

Kegiatan ini dibuka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, dr H Rustam Syamsuddin MM. Rustam mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan seperti ini merupakan bagian dari program Pemerintah Kabupaten Nunukan khususnya dibidang kesehatan.

Sumber : Tribunnews
Read More

Senin, 19 Januari 2015

// //

BNP2TKI Usulkan Pendirian Pos Imigrasi di Jalur Pulau Sebatik

NUNUKAN,  - Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid akan mengusulkan agar didirikan pos imigrasi Kabupaten Nunukan di jalur Pulau Sebatik.

Sebab, di daerah itu banyak jalur tikus yang bisa dilalui TKI non-prosedural sehingga rawan terjadi human trafficking melalui jalur tersebut.

"Dengan didirikannya pos imigrasi, harapannya bisa mengurangi human trafficking melalui jalur tikus di Sebatik," kata Nusron, dalam pernyataan resmi, Minggu (18/1/2015).

Nusron yang pada hari Jumat dan Sabtu, 16-17 Januari 2015 kemarin mengunjungi Nunukan melihat langsung bagaimana kondisi di sana. Salah satunya pintu perbatasan di antara Kabupaten Nunukan dengan Kota Tawau, Malaysia, yang biasa dilalui TKI ilegal menuju Malaysia Timur.

"Jadi saya akan mengusulkan kepada pihak imigrasi untuk mendirikan pos di pulau ini. Supaya TKI dan WNI dari Sebatik bisa terlayani dengan baik. Di sisi lain, kepergian secara ilegal bisa dicegah. Atau, kita bisa terapkan aturan khusus perbatasan. Saya akan evaluasi lebih lanjut langkah mana yang lebih baik," tambahnya.

Selain akan mengusulkan didirikannya pos imigrasi di Sebatik, Nusron juga meminta Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Nunukan agar fokus pada dua misi. Pertama, perwakilan di Kalimantan Timur ini harus fokus pada perlindungan TKI.

"Tindakan seperti trafficking atau smugling harus dicegah karena dekat dengan perbatasan. Kalau soal penempatan yang susah, bisa membangun LP3TKI (Loka Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI) di kota Balikpapan atau Samarinda," terangnya.

Misi kedua, lanjut dia, adalah pemberdayaan TKI purna di Kabupaten Nunukan. Hal tersebut dilakukan agar TKI yang sudah dideportasi dan beresiko kembali sebagai TKI ilegal bisa ditahan. Program itu nantinya difokuskan ke wilayah perbatasan yakni Pulau Sebatik.

"Nanti kami akan fokuskan ke pengembangan rumput laut di Sebatik. Kami akan memberikan pelatihan kepada para TKI yang dideportasi. Tapi pelatihannya harus secara menyeluruh, bukan satu atau dua hari. Saya tahu biasanya TKI yang sudah di deportasi ini tak mau kembali ke kampung karena malu," ungkapnya.

Sumber : Kompas
Read More

Jumat, 09 Januari 2015

// //

Satgas Pamtas Yonif Linud 433/JS Amankan Pengedar Sabu di Dermaga Sebatik

Satgas Pamtas Yonif Linud 433/JS Amankan Pengedar Sabu di Dermaga Sebatik
SEBATIK - Anggota Pos Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Tanjung Aru SKK I Batalyon Infanteri (Yonif) Linud 433/Julu Siri (JS) menyita sabu seberat 2,26 gram dari tangan seorang pria berinisial K (48) di dermaga Mantikas Sebatik, Kamis (8/1/2015).

Kepada TRIBUNKALTIM.CO, Komandan Satgas Letkol Inf Agustatius Sitepu MSi menjelaskan, sebelum penangkapan sembilan anggota Pos Pamtas Tanjung Aru SSK I Yonif Linud dipimpin Letda Inf Very Grahita  melakukan pengintaian di dermaga Mantikas Sebatik.

Tepat pukul 13.30 WITA, Letda Inf Very Grahita memeriksa seorang warga yang dicurigai berinisial K asal Sedadap, Kabupaten Nunukan. Hasilnya, ditemukan narkoba jenis sabu seberat 2,26 gram.

Menurut Agustatius, barang bukti yang disita dari  pria berinisial K berupa 1 paket sabu-sabu (2,26 gram), 1 buah dompet dan uang tunai Rp 32.000,  2 bungkus rokok dan 1 korek api,  1 kotak alat penghisap dan 1 unit handphone merk Samsung.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, terungkap K sebagai pengedar sabu yang sering beroperasi di Sedadap dan Nunukan. "Pelaku mengakui sabu diperoleh dari seseorang yang beralamat di Pasar Baru Nunukan dan dibeli dari Tawau, Sabah Malaysia," ujar Agustatius.

Hari ini, tambahnya, pelaku berikut barang bukti dibawa ke Pos Kotis Satgas Pamtas YL 433/JS Kostrad untuk diproses lebih lanjut dan diserahkan ke Polres Nunukan, Kalimantan Timur.

Sumber : Tribunnews
Read More

Selasa, 23 Desember 2014

// //

Kaltara akan Bangun Bandara di Sebatik

Kaltara akan Bangun Bandara di Sebatik
NUNUKAN- Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara mengusulkan pembangunan bandar udara perintis di Pulau Sebatik, perbatasan Republik Indonesia-Malaysia.

“Itu Insya Allah disetujui masuk RPJMN 2015-2019. Jadi di Sebatik juga kita usulkan ada bandara perintis,” ujar Penjabat Gubernur Kalimantan Utara, Irianto Lambrie, Senin (22/12/2014) di Nunukan.

Pada perkembangannya, Pemerintah pusat juga telah menyetujui penambahan panjang landasan pacu Bandar Udara Nunukan.

“Bandara Nunukan sudah disetujui untuk perpanjangan 600 meter. Kita sesuai perjanjian dengan Menteri Perhubungan, kita menunggu selesainya pembebasan lahan oleh Pemkab Nunukan sepanjang 600 meter,” ujarnya.

Sementara mengenai belum beroperasinya pelabuhan laut yang dibangun di Pulau Sebatik, Irianto mengatakan, hingga kini pembangunan pelabuhan tersebut belum tuntas.

“Jadi itu proyek Kementerian Perhubungan. Kita sudah laporkan kepada Presiden dan Presiden nanti akan meminta penjelasan dari Menteri Perhubungan. Kita meminta itu bisa segera dioperasikan, diresmikan untuk dimanfaatkan,” ujarnya.

Irianto mengaku tidak terlalu mengetahui persis persoalan yang menyebabkan pelabuhan tersebut belum bisa beroperasi.

“Itu kan kegiatan beberapa tahun yang lalu. Nanti silakan pihak Kementerian Perhubungan melakukan evaluasi,” ujarnya.

Sumber : Tribunnews
Read More

Kamis, 18 Desember 2014

// //

Menteri Usulkan Pulau Sebatik Jadi Kota

Menteri Usulkan Pulau Sebatik Jadi Kota
JAKARTA,- Menteri Agraria Ferry Mursidan Baldan mengatakan pemerintah tengah mengusulkan agar Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, bisa menjadi kota. Saat ini, Sebatik baru sebatas kecamatan.

Peningkatan status bagi Pulau Sebatik itu dilakukan untuk mempercepat pembangunan dan memudahkan layanan di pulau yang berbatasan dengan Malaysia itu.

"Saya usulkan ke pemda saya, diusulkan agar ini menjadi kota Sebatik. Kalau kota kan ada pembangunan, percepatan sehingga lebih cepat dicapai," kata Ferry di kantor presiden, Rabu (17/12/2014).   Dengan menjadikan Pulau Sebatik sebagai kota, Ferry mengatakan pulau itu nantinya akan memiliki administrasi pemerintahan sendiri. Layanan publik pun akan lebih mudah karena warga di sana tidak perlu lagi ke luar pulau.
  Ferry juga mengusulkan agar persoalan perbatasan ini ditangani oleh satu lembaga saja bisa Kementerian Pertahanan atau Kementerian Dalam Negeri. Dengan adanya satu lembaga yang berwenang, maka anggara wilayah bisa dikumpulkan ke lembaga tersebut.
"Jangan disebar. Boleh tersebar tetapi pelaksanaanya harus dari satu kebijakan. Boleh tersebar hari ini tetap jangan bikin kebijakan sendiri," ucap Ferry.

Pulau Sebatik sempat menjadi perebutan pemerintah Indonesia dan Malaysia. Pada 2005, Malaysia sempat mengklaim blok Ambalat yang kaya akan minyak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saaat itu juga turun ke lokasi dan bertemu dengan petugas penjaga di wilayah terdepan.

Sumber : Kompas
Read More