LPG 3 Kg Pertamina di Pulau Sebatik: Perjuangan Menjaga Kedaulatan Energi di Perbatasan

LPG 3 Kg Pertamina di Pulau Sebatik: Perjuangan Menjaga Kedaulatan Energi di Perbatasan

Biru di Batas Negeri

DI ujung Kalimantan Utara, Pulau Sebatik, negara tidak lagi diukur lewat tegaknya patok batas, tapi dari warna apinya. Jika apinya kuning Petronas atau Shell (Malaysia), berarti hari itu Rupiah sedang kalah. Bila apinya biru Pertamina, berarti Indonesia masih ada di dapur-dapur perbatasan.

Dulu, daratan seluas 452,2 km2 dan separuhnya punya Malaysia ini semuanya nyaris kuning. Tabung 14 kilogram asal Tawau, Malaysia menjadi raja, ibarat pemandangan karib di dapur warga perbatasan. Dibelinya dengan Ringgit, diangkat dengan dua tangan karena beratnya hampir 30 kilogram.

Muhammad Khaidir, pemilik pangkalan di Sei Pancang, Kecamatan Sebatik Utara, masih ingat bagaimana ibu-ibu harus memanggil suaminya untuk mengangkat tabung itu ke rumah mereka. “Belinya pakai Ringgit, kurs naik membuat harganya ikut naik, cukup menguras kantong. Berat lagi untuk diangkat oleh ibu rumah tangga. Mau bagaimana lagi dulu tidak ada pilihan,” kenang Haidir, Sabtu (03/10/2026).

Cita-cita daulat energi di batas negeri akhirnya mengetuk nurani para pemangku kepentingan pada 2014. Datangnya “si melon” LPG 3 kilogram, membawa angin segar daratan beratap dua. Kecil, ringan dan mudah diangkat dengan satu tangan mewarnai celoteh ibu-ibu di setiap pangkalan. Paling penting dibelinya dengan Rupiah, sejak itulah perang merebut dapur perbatasan dimulai.

Warga RT 04, Desa Sei Pancang, Nurbaya adalah saksi hidup peralihan itu. Dari dapur sederhananya, ia telah melewati beragam era energi mulai kayu bakar, ke gas Malaysia, kini LPG 3 kilogram. Satu tabung Rp30.000, cukup untuk menghidupkan kompor rumah tangganya selama sepekan. Syaratnya hanya satu, membawa Kartu Keluarga.

“Dulu pernah pakai tabung gas Malaysia, pernah juga pakai kayu bakar. Sekarang pakai LPG 3 kilogram, harganya jauh lebih murah dan hemat. Kita sangat bersyukur sudah ada gas melon di sini,” akunya.

LPG 3 Kg Pertamina di Pulau Sebatik: Perjuangan Menjaga Kedaulatan Energi di Perbatasan

Wanita paruh baya ini tidak pernah tahu apa arti ketahanan energi nasional. Di benaknya, jika tabung melon hijau kosong, maka anaknya berangkat sekolah tanpa bekal. Bagi warga perbatasan, kedaulatan maupun kemerdekaan dimaknai sederhana dengan kompor yang menyala.

Menerjang Ombak, Mengikis Ketergantungan

Perjalanan menghadirkan LPG 3 kilogram tidak selalu berjalan mulus. Bahkan, kedaulatan itu tidak datang lewat jalan tol, si melon harus menembus gelombang dan menyusuri sungai. Dari supply point (titik pasok) di Tarakan, ribuan tabung harus diangkat menggunakan kapal kayu menuju tapal batas.

“Satu tantangan kami melakukan distribusi LPG ke wilayah Sebatik. Tetapi tidak menyurutkan semangat kami dalam memenuhi mandat kemandirian energi kepada seluruh rakyat Indonesia,” tegas Seftyan Reza Pangestu, Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Patra Niaga Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimut) VIII Gas Regional Kalimantan, Sabtu (03/10/2026).

Mandat itu berlanjut di pundak orang-orang seperti Samsir (54), nahkoda kapal pengangkut LPG. Bersama 5 krunya atau Anak Buah Kapal (ABK), setia 8 tahun berlayar menjadi garda terdepan distribusi energi. Satu kapal dapat mengangkut 5.200 tabung, dalam sebulan 4 sampai 5 kali bolak-balik Tarakan-Sebatik.

Mengarungi lautan dan menyusuri sungai dengan muatan ribuan tabung gas bukanlah perkara mudah. Terutama saat cuaca ekstrem datang tak diundang, Samsir bersama krunya di ambang kebimbangan antara tiba tepat waktu dan keselamatan pelayaran. “Namanya di laut lepas begini, kalau cuaca sudah buruk, kita harus pintar menentukan pilihan atau membaca keadaan. Kadang harus segera mencari tempat perlindungan. Perjalanan biasanya semalam tertahan jadi tiga malam,” beber Samsir, dengan tangan yang menghitam karena oli dan air laut.

Di atas kapal kayu itulah, sesungguhnya kedaulatan energi republik ini berlayar. Perjalanan tiga hari tiga malam, terkadang membuat puluhan pangkalan di Sebatik kosong serentak. Kondisi tersebut bisa saja membuat dapur-dapur kembali menoleh ke Malaysia.

Pertaruhan Harga Diri Bangsa

H. Abdullah, pemilik PT Sebatik Island Flower agen pertama yang ditunjuk sejak Desember 2014, tahu betul pertarungan harga diri ini. Ia memulai dengan 2 LO (Loading Order) atau 1.120 tabung sebagai perkenalan. Seiring meningkatkan kepercayaan masyarakat yang enggan berpaling ke negeri tetangga, pasokannya meningkat 114 LO atau sekitar 63.000 tabung per bulan. Perusahannya melayani 46 pangkalan yang tersebar di Pulau Sebatik dan daratan Kabupaten Nunukan.

Di balik menjaga kedaulatan energi negeri, terselip dinamika ujian. Janji manis keuntungan dari perusahaan Malaysia yang tinggi hingga memainkan harga jual LPG 3 kilogram kerap menghampiri. Untungnya, nasionalisme masih terpatri di dada, Garuda menjadi simbol pegangan hidup H. Abdullah dalam berusaha.

Ia menggenggam teguh sebuah janji puluhan tahun silam, menghadirkan gas murah dalam negeri demi nyalanya kompor harapan. Komitmen menjaga Harga Eceran Tertinggi (HET) si melon diperkuat melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Kalimantan Utara Nomor 100.3.3.1/18/2025 sebesar Rp30.000 per tabung. Bahkan, sudah tak lagi menjual api kuning Malaysia.

“Di perbatasan kita harus jaga harga. Kalau harga eceran naik di atas Rp30.000 masyarakat akan berpaling lagi ke gas Malaysia karena perhitungan harganya lebih murah. Ini bukan masalah bisnis semata, tapi menyangkut harga diri bangsa bahwa Pertamina hadir menjaga ketahan energi hingga tapal batas Indonesia,” tegas H. Abdullah, Minggu (04/10/2026).

Terbesit impian besar agar ketergantungan warga pada tabung impor terputus total. Insting bisnisnya berbicara harapan adanya konversi, warga dapat menukar tabung Malaysia 14 kilogram dengan produk Bright Gas Pertamina. Jadi tidak ada namanya pembelian tabung baru Rp900.000, cukup membayar isinya saja. Harapan ini seiring Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yakni mendorong kemandirian bangsa melalui energi dan memperkuat stabilitas makro ekonomi. Artinya, Rupiah benar-benar menang di dapur perbatasan.

Fuel Terminal Pertamina Patra Niaga Tarakan merilis market share (pangsa pasar) Bright Gas (non-subsidi) di Provinsi Kalimantan Utara mencapai 25-27%. Menunjukkan brand awareness (kesadaran merek/kepercayaan) terhadap produk dalam negeri menguat. Pertamina menjamin mutu gas propana butana bersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan telah lolos uji pengawasan mutu (quality control). “Kami berkomitmen menjaga supply agar tidak putus. Segenap upaya akan Pertamina lakukan demi masyarakat Indonesia,” sambung Seftyan Reza Pangestu, SBM Pertamina Patra Niaga Kaltimut VIII Gas Regional Kalimantan.

Di tanah beratap dua, satu langkah ke kanan adalah Indonesia dan satu langkah ke kiri menjadi Malaysia, api biru kini lebih sering menyala daripada api kuning. Setiap desir api biru di ujung kompor adalah tanda, bahwa negara tidak hanya hadir di patok batas yang dicat setiap 17 Agustus. (Chris)

Sumber : RRI Tarakan

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url