Ringgit Masuk Sekolah, SDN 004 Sebatik Tengah Kenalkan Rupiah Sejak Dini

Ringgit Masuk Sekolah, SDN 004 Sebatik Tengah Kenalkan Rupiah Sejak Dini

Nunukan - Kebiasaan sejumlah siswa membawa uang ringgit ke sekolah mendorong SD Negeri 004 Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menerapkan kantin rupiah di lingkungan sekolah. Program tersebut merupakan upaya sekolah mengenalkan dan membiasakan penggunaan mata uang rupiah kepada siswa sejak dini.

Kebiasaan membawa ringgit terjadi karena sebagian siswa SD Negeri 004 Sebatik Tengah tinggal di wilayah Sebatik bagian Malaysia, namun bersekolah di wilayah Sebatik, Indonesia. Kondisi tersebut membuat siswa terbiasa menggunakan mata uang Malaysia dalam aktivitas sehari-hari, termasuk untuk membeli jajanan.

Kepala SD Negeri 004 Sebatik Tengah, Sitti Ara Razak, mengatakan kantin rupiah dibuat untuk memfasilitasi siswa yang masih membawa uang ringgit ke sekolah. Uang tersebut dapat ditukarkan dengan rupiah sehingga siswa tetap bisa bertransaksi di lingkungan sekolah.

“Jadi, memang awalnya itu, karena banyak anak-anak kami yang tinggal di Sebatik bagian Malaysia dan kalau ke sekolah mereka bawa jajan uang ringgit, makanya kami coba fasilitasi untuk menukar dengan uang rupiah,” kata Sitti Ara, Rabu (9/9/2026).

Menurut Sitti Ara, penggunaan dua mata uang di kawasan Sebatik merupakan hal yang sulit dihindari karena aktivitas masyarakat dengan negara tetangga Malaysia berlangsung cukup dekat. Meski demikian, siswa tetap perlu mendapatkan edukasi agar mengenal rupiah sebagai mata uang negara sendiri.

Ia menyebut penggunaan ringgit di kalangan siswa saat ini sudah jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Namun, sekolah tetap memberikan pemahaman secara terus-menerus agar siswa terbiasa menggunakan rupiah dalam aktivitas di sekolah.

“Alhamdulillah penggunaannya sudah tidak seperti dulu, walaupun memang tidak bisa kita pungkiri kalau ini susah dihilangkan, cuma memang minimal mereka mengenal mata uang sendiri,” ujarnya.

Selain mengenalkan rupiah, kantin tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana belajar bagi siswa, khususnya dalam memahami nilai uang dan melakukan penghitungan sederhana. Saat menukarkan uang maupun membeli jajanan, siswa secara tidak langsung belajar mengenali pecahan dan nilai mata uang.

Sumber : RRI Nunukan

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url